Kisah dr. Dyan Agung Anggraini, Dokter Gratis Alumni Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Tanggal: 2021-08-03 08:00:40 | Update by: andyka
alumni fkuwks

Dokter Dyan Agung Anggraini, bisa disebut merupakan dokter langka pada zaman seperti sekarang ini.

Ini karena, dia tidak mematok harga kepada pasien yang datang padanya.


Bahkan, saat berobat sebagian besar pasiennya membayarnya dengan memberikan hasil kebun mereka yang berupa sayur mayur.

Dokter Dyan Agung Anggraini memang sengaja tidak mematok harga periksa pada pasiennya karena ingin mengabdi kepada kemanusiaan dan tahu diri pada negara.

Bertempat di Desa Sumberpucung, Malang, wanita dari tiga bersaudara ini membuka praktiknya sejak tahun 2007 silam.

Tempat praktik yang selalu ramai pasien selalu menjadi pemandangan setiap hari.

Banyak pasien yang rela datang jauh-jauh ke tempat praktiknya.

Hal ini membuat tak jarang malah dia memberikan pesangon kepada pasien yang tidak bisa pulang dari tempat praktiknya.

Meski tak dipungut biaya sama sekali, pasien tidak perlu mempertanyakan pelayanannya.


Alumni FK UWKS ini tidak pernah membeda-bedakan pasien hendak membayar berupa apa

Sebagian hasil yang didapatkan seperti sayur mayur dibagikan kepada tetangga sekitar rumahnya.

Keteguhan hatinya sangat besar untuk membantu para pasien yang kurang mampu dalam bidang finansial.

Tidak hanya masyarakat biasa saja yang berobat ke sana, melainkan penyandang difable.

Mereka yang kembali berkat kesabaran dan ketelatenannya dalam memeriksa pasien.

Susahnya komunikasi bagi penyandang tuna rungu bukan merupakan masalah yang besar bagi dirinya.

Ini karena, dia memiliki perawat yang juga seorang difable.


Dengan menggunakan bahasa isyarat sederhana Alumni FK UWKS 1995 ini memberikan petunjuk kepada pasien tentang aturan minum obat hingga pasien tersebut mengerti.

Begitu lulus dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dokter cantik ini langsung membuka praktek hingga sekarang sangat dicintai oleh masyarakat.

Dokter umum satu ini memploklamirkan secara langsung untuk pasien HIV, TBC, penyakit jiwa tidak dipungut biaya sama sekali.

Untuk ketiga penyakit tersebut wanita asli Malang ini bekerjasama dengan puskesmas setempat untuk memberdayakan serta mengobati.

Bahkan dirinya merupakan pegiat perkumpulan HIV yang ada di daerahnya.


Dia mengumpulkan secara berkala Orang Dengan HIV/AIDS (ODA) untuk diberikan pencerahan.

“Awalnya mereka memang sering berobat di sini, lalu sering kumpul bareng juga disini akhirnya ya sya bentuk saja perkumpulan (HIV) ini. Karena sebagian besar dari mereka masih memiliki dendam ingin menularkan penyakit tersebut kepada orang lain, “ungkap dr.dyan

Dirinya sangat menjaga sekali kontak dengan pasien HIV.

Ia selalu permisi dahulu sebelum memeriksa untuk memasang sarung tangan dan masker agar tidak tersinggung.

Terbukti, sekarang sedang melakukan pemberdayaan rehabilitasi HIV di daerahnya.

Dengan kisah tersebut, secara bangga pihak UWKS langsung mengunjungi kediamannya.

Bersama Ketua Yayasan Wijaya Kusuma, Kepala Humas UWKS, Kepala BPM UWKS serta beberapa alumni memberikan kenang-kenangan berupa penghargaan kepada dokter mulia ini.

“Kami bangga sekali atas kisah dr. Dyan ini, Ternyata apa yang dididik dari yayasan maupun universitas telah merasuk kedalam jiwa mahasiswa maupun alumnusnya. Selain itu, pengabdian kepada masyarakat itu sangat penting. Seperti contoh ia tidak mau mendaftar sebagai PNS, sangat susah untuk sekarang ini memiliki mainset seperti itu. Membantu tulus secara mulia dan tidak pandang bulu, “ ujar Drs. Soedijatmiko, MM selaku Ketua Yayasan Wijaya Kusuma.


sumber:https://jatim.tribunnews.com/2018/02/22/kisah-dr-dyan-agung-anggraini-dokter-gratis-alumni-universitas-wijaya-kusuma-surabaya